Thursday, March 16, 2017

Puisi yang berjudul "Kehilangan"

Hariku sepi
Hatiku apalagi
Kehampaan yang menemani
Bingung, sangat bingung
Aku ingin bertanya, "tidakkah ada kepedulian terhadapku lagi?"
Tentu ada, tapi bukan itu yang kumaksud
Bukan dia yang kuinginkan
Maka dari itu hari selalu terasa sepi, walau ada yang menemani
Bagai air yang diisi dalam bak yang bocor, tetap kosong

Hari berganti, bulan berganti, tahunpun berganti
Mencoba membuka hati, tapi selalu kandas
Terkadang kata jadianpun belum terucap, aku sudah kabur
Aku tak berani menipu hatiku, tak berani menyakiti orang 'lagi'
Kubiarkan hati dalam keheningan
Kubiarkan hati dalam penantian
Walau aku tahu bagaimana sakitnya sepi

Hening malam semakin menambah kesunyian hati
Semakin merobek luka
Teringat segala hal yang harusnya tak diingat
Tutur lembutmu, hangat sikapmu, dan budi pekertimu
Bagaimana mungkin dengan segala kebaikan itu kau adalah orang yang jahat?
Oranh jahat yang melupakanku begitu saja
Orang jahat yang mengatakan akulah yang salah
Akulah selama ini yang tidak mengerti (?)
Aku mengerti!
Aku hanya takut jika dimulai akan berakhir
Aku hanya takut kehilangan sosok yang selalu ada untukku

Aku bersyukur, paling tidak bukan aku yang memutuskan untuk kehilangan
Aku bersyukur pernah mengenalmu

Tertanda,
Sahabatmu

Puisi yang berjudul "Ibu"

Ibu
Ibu yang melahirkanku
Tak gentar
Walau nyawa dipertaruhkan

Ibu
Ibu yang membesarkanku
Tanpa pamrih
Walau lelah ditahankan

Kasih sayangmu, cinta kasihmu
Tak ku lupakan
Kasih sayangku, cinta kasihku
Tak kupalingkan

Terima kasih Ibu
Hanya itu kuucapkan
Terima kasih Ibu
Jasamu tiada tara

Puisi dengan judul "Pelangi"

Pelangi itu indah, penuh warna
Pelangi melambangkan keceriaan melalui paduan warnanya
Tapi pelangi menawarkan keindahan yang sesaat
Keindahan yang kedatangannya tidak terduga
Kepergiannya juga tidak terprediksi
Hilang, lenyap begitu saja, tanpa tahu kapan kembali
Walau begitu, aku tetap menyukai pelangi
Selalu menunggu kapan pelangi menghiasi langit
Walau aku tidak begitu menyukai hujan

Oh bukan, aku bukan tidak menyukai hujan
Aku gelisah
Aku mengarungi derasnya hujan
Aku menunggu hujan redah tanpa payung
Aku berharap jika aku bertahan tanpa payung, aku bisa melihat pelangi
Aku bisa merasakan kebahagiaan, melihat keindahan yang lebih lagi

Tapi apa yang aku dapat?
Bukan keindahan, apalagi kebahagiaan yang lebih
Bahkan pelangipun tak muncul
Aku tidak melihat pelangi
Harapanku pupus

Aku tahu ini akan terjadi, tapi aku selalu berharap probabilitasnya 0%
Aku meyakinkan diriku untuk sebuah ketidakpastian
Walau aku tahu, setelah hujan, bahkan badai sekalipun, tidak ada yang dapat menjamin pelangi akan muncul
Dengan bodohnya aku tetap menunggu pelangi
Menunggu sesuatu yang tidak pasti